Dampak Negatif Ulah Netizen: 5 Taman Wisata yang Rusak

Klik FoodDampak Negatif Ulah Netizen: 5 Taman Wisata yang Rusak, Perilaku tidak bertanggung jawab dari netizen seringkali menimbulkan dampak serius, terutama terhadap lingkungan. Kasus-kasus di mana taman-taman indah menjadi rusak karena ulah netizen yang tidak memperhatikan etika dan kelestarian lingkungan semakin sering terjadi. Mari kita lihat lebih dalam tentang lima taman wisata yang mengalami kerusakan akibat ulah netizen.

Dampak Negatif Ulah Netizen: 5 Taman Wisata yang Rusak

1. Taman Bunga Amarilis, Bantul, Yogyakarta

Pada tahun 2015, Taman Bunga Amarilis di Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta menjadi sorotan setelah foto-foto dari sana viral di media sosial. Awalnya, taman seluas 2.300 meter persegi ini adalah lahan pribadi yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat umum. Namun, setelah seorang netizen mengunggah foto di media sosial, taman ini menjadi populer secara tiba-tiba.

Kedatangan ribuan netizen yang ingin berfoto dengan latar belakang bunga-bunga amarilis oranye yang cantik berujung pada kerusakan parah. Banyak dari mereka tidak memedulikan kondisi taman dan secara sembarangan menginjak, memetik, atau duduk di atas bunga-bunga tersebut. Akibatnya, keindahan taman yang seharusnya dipertahankan malah rusak karena perilaku tidak bertanggung jawab ini.

2. Kebun Raya Baturraden, Banyumas

Tidak jauh berbeda dengan kasus Taman Bunga Amarilis, pada tahun yang sama, Kebun Raya Baturraden di Banyumas juga menjadi sasaran ulah netizen yang tidak bertanggung jawab. Pada liburan akhir tahun 2015, jumlah pengunjung meledak dari rata-rata 500-700 orang per hari menjadi lebih dari 2.000 orang.

Netizen yang datang ke kebun raya ini dengan rombongan tidak mengindahkan larangan untuk tidak menginjak tumbuhan di sana. Beberapa bunga dan tanaman menjadi rusak akibat terinjak-injak, meskipun beberapa bagian taman sudah dilengkapi dengan pagar kecil untuk melindungi tumbuhan. Namun, upaya itu tidak cukup untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh perilaku sembrono dari para pengunjung.

3. Ranu Manduro, Mojokerto

Ranu Manduro di Mojokerto menjadi perbincangan hangat di media sosial pada awal 2020, beberapa waktu sebelum pandemi COVID-19 melanda. Video dan foto-foto keindahan Ranu Manduro dengan paduan lagu Sunday Best dari Surfaces menarik perhatian banyak netizen.

Namun, keindahan alam tersebut tidak terlindungi dari perilaku tidak bertanggung jawab para wisatawan. Banyak sampah yang dibuang sembarangan dan akses jalan yang masih berupa tanah menjadi rusak akibat gilasan roda kendaraan. Keindahan alam yang seharusnya dinikmati dengan penuh rasa syukur malah menjadi korban dari keegoisan dan kurangnya kesadaran lingkungan.

4. Walker Canyon, Lake Elsinore, California

Kasus serupa juga terjadi di Lake Elsinore, California, Amerika Serikat, di Walker Canyon. Kawasan perbukitan yang ditumbuhi oleh bunga poppy kuning menjadi viral di Instagram pada Maret 2019. Dampaknya, ribuan wisatawan dari berbagai negara bagian berbondong-bondong datang ke sana untuk melihat keindahan alam yang luar biasa.

Sayangnya, meningkatnya jumlah pengunjung tidak diimbangi dengan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Banyak bunga poppy yang rusak akibat terinjak-injak dan beberapa akses jalan menjadi macet parah. Warga setempat menyebut kejadian ini sebagai “poppylypse” karena kerusakan yang disebabkan oleh gelombang besar wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Jangan lupa kunjungi artikel sebelumnya 7 Destinasi Outbound Program LDKS yang Menginspirasi

5. Mayfield’s Lavender Farm, Surrey, Inggris

Mayfield’s Lavender Farm di Surrey, Inggris, terkenal karena keindahan hamparan bunga lavendernya. Kebun lavender ini menjadi populer di media sosial pada tahun 2019, dan banyak wisatawan yang datang untuk berfoto atau sekadar menikmati pemandangan yang menakjubkan.

Namun, kehadiran wisatawan yang tidak tertib menyebabkan kerusakan pada bunga-bunga lavender dan lingkungan sekitarnya. Banyak bunga yang dipetik secara sembarangan, jalanan menjadi macet, dan suasana menjadi sangat bising. Akibatnya, pihak manajemen farm mengambil langkah untuk membatasi jumlah kunjungan dan melarang pengunjung untuk memetik lavender.

Kasus-kasus di atas menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan perlindungan lingkungan dan menjaga kelestarian alam. Perilaku tidak bertanggung jawab dari netizen yang hanya berpikir tentang kepuasan diri sendiri tanpa memperhatikan dampaknya bagi lingkungan sekitar sangat merugikan. Semua pihak, termasuk pengelola tempat wisata, netizen, dan pemerintah, perlu bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam untuk generasi yang akan datang.